Saturday, 17 August 2013 0 comments

Games Melatih Kecepatan dan Kecerdasan


Rebut dan Rampas

Peralatan : Tongkat atau sapu lidi untuk tiap anak
Jumlah pemain : bebas
Waktu : 10 menit
Tujuan :
1.       Melatih kecekatan
2.       Melatih kesetiakawanan
3.       Unsur hiburan

Semua anak membentuk lingkaran dengan jarak kira-kira 1 meter.. Semakin ahli, jaraknya dapat semakin jauh. Tiap anak memegang tongkatnya hingga berdiri tegak di lantai. Bila ada perintah “ya” tiap anak harus melepaskan tongkatnya dan cepat-cepat menangkap tongkat teman di sebelah kanannya. Bila tongkat itu sudah keburu jatuh, maka ia dikeluarkan. Permainan ini sangat menyenangkan dan dapat bervariasi. Jarak anatr anak dapat diperbesar bila anak-anak sudah mampu, perintah dapat berupa “kiri” atau “kanan”. Bila ingin permainan lebil lama, maka setelah jatuh 3 kali baru dikeluarkan.

Petani dan Pencuri

Peralatan : Karet gelang atau tali, kantong kacang, atau potongan kain, atau agar kelihatan sungguhan, sebuah apel.
Jumlah pemain : bebas
Waktu : 8-10 menit
Tujuan :
1.       Melatih kecepatan
2.       Unsur hiburan
Anak-anak membentuk lingkaran dan seorang anak, yang jadi pencuri disuruh keluar ruangan. Selagi ia diluar, seorang anak ditunjuk sebagai petani. Sebuah benda ditaruh di tengah lingkaran. Pencuri tadi datang dan berjalan diluar lingkaran. Ia boleh memasuki lingkaran dari mana saja dan mencuri benda itu. Petani harus menangkapnya pada saat pencuri menyentuh benda tersebut. Pencuri itu harus lari keluar dari lingkaran lewat jalan masuk tadi dan ia selamat bila ia dapat keluar tanpa tertangkap. Bila ia tidak tertangkap, maka petani itu harus jadi pencuri dan dipilh petani baru.

Permainan Mengenali Teman

Peralatan : Kertas kosong, alat tulis untuk tiap peserta
Jumlah Pemain : Berapa saja
Waktu : 10-12 menit
Tujuan :
1.       Saling mengenal secara lebih mendalam
2.       Berani Mengungkapkan diri
3.       Melatih kecerdasan

Pemimpin membagikan kertas kosong kepada semua peserta. Seluruh peserta lalu menulis data pribadi mereka (nama lengkap, data keluarga, status, sekolah/pekerjaan, hobi, alamat, dan sebagainya). Setelah itu kertas yang sudah terisi dikembalikan kepada pemimpin. Lalu pemimpin memberikan lagi secara acak kepada peserta. Pemimpin memberikan waktu 2-3 menit kepada para peserta untuk menghafal data pribadi kawannya itu. Kemudian pemimpin menunjuk kepada salah seorang peserta dan bertanya kepadanya tentang data pribadi yang ia terima. Peserta harus mampu menjawab pertanyaan pemimpin. Sementara itu yang memiliki data pribadi harus memperhatikan benar/tidaknya jawabannya.

Sumber: http://goens.edublogs.org/
Saturday, 10 August 2013 0 comments

Pengalaman Mengunjungi ITB


Wellcome to ITB

            Aku jatuh cinta pada ilmu dan nuansa keilmuan serta tiap bangunan universitas yang merupakan tempat bersejarah pencetak para pemimpin negeri ini dengan segala pernak pernik kegiatan dan hiruk-pikuk di dalam kampus. ITB menjadi saksi bisu yang menemani perjalananku dalam kegiatan IMSS FSLDKN XVI tahun 2012 pertama dan terakhirku.
            Menapaki kota Bandung yang memiliki suhu yang terlampau dingin bagi tubuh orang Sumatera, Palembang. Pengalaman ini bermula dari undangan IMSS yang menurutku secara pribadi belum terlalu penting untuk mengikuti agenda tersebut, mengingat usiaku dikampus dapat dikatakan tua dan masa injuring time beberapa bulan sebelum sidang komprehensip skripsi.
pembagian kelas agenda sekolah LDK
persiapan long march, penutup acara
            Syukur Alhamdulillah, berkat nikmat kesehatan dan kesempatan yang memaksakan langkah kaki ini menapaki Bandung dan ITB khususnya. Membersamai para pejuang dari seluruh kota di Indonesia, Sabang-Marauke. Melihat foto diatas sangat mengharukan bagiku. Yang tadinya merasa hidup di fakultas dengan orang yang itu-itu saja. Hadir di agenda ini menggelorakan semangat bahwa kita tidak sendiri, bahkan jauh lebih beruntung. Ada disudut daerah Indonesia yang masih harus terseok-seok dengan perjuang, Palembang saat ini yang aku anggap sudah pada level kondusif. Malu pada diri ini, sehingga dikemudian hari alasan jumlah menjadi hal yang pantang untuk disebutkan jika target-target kerja tak tercapai. Salah satu hikmah kegiatan ini.
oleh-oleh
            Dengan 2 bus kafilah Puskomda Sumbagsel menuju tempat salah satu saudara tua, ITB, lautan ilmu yang tak akan pernah disesali telah mengunjunginya. Mulai dari profesional panitia, ITB sebagai tuan rumah, yang menyiapkan penginapan bagi peserta dari Sabang-Marauke bekerja sama dengan segenap panitia dari kampus-kampus sekitar ITB di Bandung dengan tingkat komunikasi yang luar biasa mengagumkan. Tak kalah dengan arsitektur kampus ITB yang mempesona.. Good management, acara yang keratif dan inspiratif dengan para pengisi acara/pembicara yang mengagumkan, serta kecanggihan media sehingga semua informasi dapat tersebar secara menyeluruh ke semua utusan/peserta kota Sabang-Marauke.
            Rasanya tak jua tepuaskan dahaga ilmu itu, selalu membuat rindu dengan kegitan yang bersinergi dan berintegrasi  antar kegiatan kampus ITB dan IMSS tersebut. Saat itu semua dipenuhi ikhwan (putra) yang sopan dan akhwat (putri) dengan jilbabnya, hampir-hampir kampus ITB tersulap permukaan layaknnya sebuah pesantren, nuansa itu tercipta dengan sendirinya dan melebur. Pada hari yang sama, ITB dalam masa ospek ditambah ada agenda kunjungan dari siswa sekolah internasional serta pelajar internasional/wisatawan asing . Ada satu ekspresi yang cukup menggelikan dari tiap mereka yang melihat suansana ITB dipenuhi oleh peserta IMSS mereka bingung ada apa? Kegiatan apa? Atau bingung dengan kondisi real yang ada ini ITB tempat kuliah atau pesantren kah? Allahu Akbar, dengan adanya kegiatan ini secara tidak langsung mengsyiarkan Islam, serta menunjukkan muslim yang berkompeten, berwawasan luas, ikatan ukhuwah yang kuat serta  tak lupa mereka (para peserta IMSS tersebut) adalah bagian dari kaum intelektual itu sendiri. Perserta IMSS tersebut hanya sedikit perwakilan cendikiawan dan ilmuan muslim yang sempat hadir di acara tersebut. Kampanye/syiar Islam di saat itu tersampaikan sudah, cukup dengan kehadiran peserta itu sendiri. Masya Allah.
            Berikut laporan kegiatan yang berusaha dikutip dari salah satu delegasi peserta kafilah LDF Ramah FH Unsri pada IMSS FSLDKN IV 2012. Silahkandisimak disini.
Tuesday, 6 August 2013 0 comments

Arabian Night 1001

        
Teringat kembali dengan kisah Arabian Night 1001 yang menjadi inspirasi dalam memberikan edukasi yaitu melalui mendongeng. Ini juga merupakan salah satu motivasi saya untuk menggemari sejarah dan kisah-kisah terdahulu bisa juga sejarah. Berawal dari menonton Arabian Night 1001, film ini pernah diputar di stasiun swasta TV nasional sekitar tahun 2000 (sebenarnya sudah lupa persis tahunnya, tapi ini hasil searching). Seingat saya ini mengenai kisah seorang raja menghadapi masa sulit dalam pemerintahannya, beruntung sang raja memiliki permasuri yang bijak yang menceritakan kisah-kisah penuh hikmah yang kemudian menjadikan sang raja bersemangat dan terilhami dalam menjalankan pemerintahannya. 
         Setelah googleing ternyata ingatan saya buruk, kisah yang sebenarnya seperti tulisan berikut mengupas singkat mengenai Arabian Night 1001 dari tulisan kompasiana Tyas

Kemarin saat membaca harian berbahasa Inggris lokal, Baladna, saya menemukan tulisan tentang legenda Scheherazade (Syeh Razade) yang dituturkan beratus tahun lalu. Kisah fiksi ini sudah ada sejak jaman Abasiyeh dan menjadi bacaan Kalifah Harun Al Rashid.
Siapakah Scheherazade?
Dikisahkan bahwa Scheherazade adalah seorang wanita yang berhasil menyelamatkan nyawanya dari pangeran lalim yang gemar membunuh istri-istrinya, yaitu Pangeran Shahrayar. Pangeran kejam ini selalu membunuh pengantin wanitanya di pagi hari setelah malam pernikahan.
Pada malam pernikahannya, Scheherazade menuturkan sebuah kisah yang demikian indah yang memukau sang pangeran, namun menjelang fajar menyingsing, Scheherazade menghentikan kisahnya di sebuah titik yang membuat sang pangeran penasaran untuk menanti kisah selanjutnya. Alhasil, Pangeran Shahrayar menunda hukuman mati bagi istrinya, Scheherazade, supaya sang istri bisa meneruskan dongengnya pada malam berikutnya.
Mengapa sang pangeran demikian kejam hendak membunuh istrinya sendiri?
Alkisah, Pangeran Shahrayar mendapati istri pertamanya (bukan Scheherazade) berselingkuh di belakangnya. Hal ini sangat menyakitkan dan membuatnya menjadi pangeran jahanam dan melakukan balas dendam. Sang istri dibunuh. Selain itu balas dendam berikutnya adalah, dia menikahi seorang wanita yang masih perawan setiap malam dan esok paginya, memenggal kepala si pengantin perempuan. Pembunuhan wanita-wanita muda ini berlangsung selama 3 tahun. Hingga suatu ketika, Scheherazade, wanita muda, pintar dan berbakat memutuskan untuk menikahi sang pangeran dengan maksud untuk mengubah sifat jahatnya. Scheherazade adalah anak perempuan dari penasihat Pangeran Shahrayar. Namanya yang indah memiliki arti: daughter of the city. Tentu saja ayahnya keberatan mengetahui niat putrinya hendak menikahi sang pangeran yang terkenal jahat karena membunuh setiap wanita yang menjadi istrinya. Namun Scheherazade berkeras ingin menikahi sang pangeran, karena ingin mengubah sifatnya. Apabila dia bisa mengubah sifat pangeran, hidupnya akan selamat, namun apabila tujuannya gagal, maka nasibnya akan sama dengan wanita lainnya, menemui ajal.
Pada malam pernikahan mereka, Scheherazade menuturkan kisah dongeng yang sangat menarik perhatian Pangeran Shahrayar, dongeng itu penuh dengan kisah petualangan, humor, romantis, terkadang kisah menegangkan. Dongeng itu dituturkan oleh Scheherazade dengan bahasa yang indah dan memukau. Namun tiap menjelang matahari terbit, Scheherazade menghentikan dongengnya tepat di suatu titik yang membuat penasaran. Hal ini berlangsung hingga 1001 malam. Berarti sudah sebanyak 1001 kisah yang dituturkan Scheherazade (mungkin dari sinilah muncul istilah, kisah 1001 malam).
Kisah-kisah manis yang dituturkan Scheherazade setiap hari ternyata mampu melunturkan sifat jahat sang pangeran. Kesabaran dan kemahiran Scheherazade merangkai kata ternyata mampu mengembalikan Pangeran Shahrayar yang jahat dan lalim, kembali menjadi pangeran yang baik, bijaksana, murah hati dan penuh cinta kasih. Kisah sebanyak 1001 itu berakhir dengan kembalinya cinta sejati sang pangeran.
Ternyata menuturkan sebuah dongeng (story telling) dapat memulihkan jiwa dan hati seseorang. Bisa dikatakan bahwa sang penutur (story teller) adalah juga sang penyembuh jiwa (soul healer). Seorang penutur dongeng atau penulis fiksi tentu seorang yang kaya imajinasi yang mampu menghembuskan nafas kehidupan di setiap kisahnya. Maka dari itu, saya salut dengan para penutur fiksi disini yang kisah-kisah fiksinya mampu membius saya lewat kata-kata. Bahkan beberapa kisah fiksi mampu menyejukkan jiwa-jiwa sepi dan terluka, mampu mengobati lara hati.
0 comments

Menulis dengan cara


            Menulis itu hal yang gampang-gampang susah. Yang membuatnya gampang/mudah adalah saat ini tersedia berbagai saranan tak serumit mesin tik yang menggunakan 11 jari. Bisa di publish secara umum melalui media yang ada diinternet, semua bisa membacanya. Tak musti harus mencetak buku atau berkompetisi mengirimkan tulisan ke media cetak lainnya. Tentunya bagi mereka tulisannya yang di muat di media cetak memiliki nilai lebih karena mengalami proses editorial yang teliti serta isi yang baik sehingga layak untuk di publis di media cetak tsb.
              Yang membuat tulisan itu menjadi sulit ialah ketika kita menulis dengan serius dibutuhkan waktu dan pemahaman yang matang, dengan berbagai referensi sehingga tida menjadikan tulisan itu membosankan untuk dibaca. Isinya penuh dengan khasanah ilmu yang membuat pembaca tak henti-hentinya memuasakan dahaga ilmu dari tulisan itu.
       Berawal dari surat hingga up date status di media sosial. Menjadikan kita mudah dalam mengembangkan daya nalar, seni, dan kemampuan menulis. Tak sekedar curcol  (curhat kecolongan) atau kicauan yang tanpa makna. Menulis menjadikan pembaca bertambah khasanah ilmu dan minimal tercerahkan bahkan terilhami dari tulisan yang tentunya hasil pemikiran dan pengalaman hidup sang penulis.
            Tulisan itu abadi tak lekang oleh waktu. Dan penulisnya pun akan meraih kemuliaan atas tulisannya yang bermanfaat tersebut. Kita lihat Abu Hurairah yang sangat mengagumi Rasulullah saw, mendampingi hampir setiap aktifitasnya. Tak mau kehilangan ilmu dari Rasulullah saw, ia selalu mencatat semua apa-apa yang keluar dari ucapan Rasullullah saw persis dengan waktu dan alasan kejadian yang melatarbelakanginya. Dan ia, Abu Hurairah terkenal sebagai perawi hadis terbanyak dari kalangan sahabat dan hasan/terpercaya ke sahihannya. Ya, berawal mencatat saja, bahkan Al-Qur'an yang kita miliki sekarang adalah hasil catatan dari para penulis yang berasal dari para hafiz dengan sekelumit metode hingga menghasilkan mushaf Al-Qur'an yang tak berubah sedikitpun dari apa yang dihafal oleh Rasulullah saw. hingga yang kita pegang sekarang.
           Adapun para penterjemah dari masa Khalifah Harun Al-Rasyid, dimana semua bidang ilmu yang bersumber dari luar negeri atas perintah sang Amirul Mukmini itu untuk diterjemahkan dan kemudian dibuka untuk umum perpustakaan bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu tersebut, dan di masa itu lahirlah para ilmuan muslim yang terkenal seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dll. Menulis dengan cara menterjemahkan kitab aslinya.
            Para ilmuan dan sastrawan, mereka menulis berdasarkan hasil pemikiran dan khasanah pengetahuan serta pengalaman hingga menghasilkan karya yang orisil, inilah letak sulitnya menulis dan penghargaan tertinggi bagi penulis itu sendiri.
           Menulislah, ia mengasah cita rasa kita. tak ada yang sia-sia dari menulis. Dengan menulis kita akan memahami diri kita sendiri serta sebagai sarana mengukur daya beserta kelemahan yang ada. Menulis dengan gaya mencatat, menterjemahkan, atau bahkan menciptakan karya orisinil sendiri, itu semua adalah sah-sah saja.
 
;